JELAMBAR AQUATIC LIFE
   
       
  KIMIA AIR ( WATER CHEMISTRY )      
 
Ikan hias air tawar dan tanaman air membutuhkan kondisi air yang menyerupai kondisi air tempat asalnya. Walaupun kebanyakan ikan hias air tawar merupakan hasil penangkaran, kebutuhan komposisi air yang menyerupai habitatnya tetap dibutuhkan untuk perkembangannya. Memeriksa parameter kimia air secara rutin akan membuat ikan anda merasa berada di habitat aslinya walaupun kita memeliharanya dalam akuarium maupun kolam. Dengan memeriksa kondisi air anda akan mengetahui dan memutuskan bahwa siklus biologi di dalam akuarium atau kolam anda berada sesuai dengan fungsinya.
 
           
 
 
           
  Komposisi (kimia) air yang umum di monitor :  
   
           
  Kekerasan Air / Total Hardness / General Hardness (gH)  
 
Kekerasan Air ditentukan oleh konsentrasi unsur-unsur alam yang terlarut didalamnya, dimana sebagian besar adalah unsur kalsium dan garam magnesium. Kekerasan air secara langsung mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan Ikan, Mikro-Organisme dan Tanaman. Kebanyakan ikan hias air tawar akuarium berasal dari daerah dengan tingkat kekerasan air yang lunak (soft water). Nilai gH yang cocok untuk kebanyakan ikan hias air tawar antara 6 sampai 16 dGH. Untuk memelihara ikan di satu akuarium pilih jenis ikan yang mempunyai daerah asal dengan nilai gH yang mendekati.
 
           
  Kekerasan Karbon / Carbonate Hardess (kH)    
 
Kekerasan Karbon terbentuk dari kumpulan (susunan) kalsium dan magnesium dengan Karbon Asam (carbonic acid). Kekerasan Karbon menstabilkan nilai pH dan menjaga dari menurunnya nilai pH secara drastis yang tentunya akan membahayakan ikan (acid drop / pH crash). Proses penguraian biologi terjadi dalam sebuah akuarium atau kolam, konsumsi karbondioksida oleh Tanaman akan menghabiskan sumber / bahan Kekerasan Karbon dalam air. Perubahan drastis nilai pH akan membahayakan Ikan anda.
 
           
  Ke - asam / basa - an Air (pH)      
 
Nilai pH air mengindikasikan apakah air tersebut memiliki kondisi yang asam (acidic), netral, atau basa (alkaline). Berdasarkan jenis dan daerah asal, ikan dan tanaman membutuhkan kondisi air yang asam, netral, maupun basa. Makin rendah nilai pH kondisi air akan semakin asam, begitu juga sebaliknya, makin tinggi nilai pH kondisi air akan semakin basa. Nilai pH value merupakan suatu skala logaritma, ini berarti bahwa : air dengan nilai pH 6 mengandung 10 kali asam (acid) lebih banyak dari air dengan nilai pH 7. Air dengan nilai pH 5 mengandung 100 kali asam lebih banyak dari air dengan nilai pH 7. Oleh karena itu nilai pH yang cocok sangat penting untuk kehidupan mahluk hidup di akuarium. Penurunan mendadak nilai pH dapat terjadi pada saat kita melakukan perawatan terhadap gangguan lumut (algae) di dalam akuarium ataupun kolam. Asam akan dilepaskan pada saat lumut (algae) mati atau mengental (membeku) yang akan tertinggal dan terkomposisi pada kolam atau akuarium, terutama pada filter. Hindari hal ini dengan membersihkan sisa lumut (algae) yang membusuk dari air dan filter secepatnya. Kebanyakan ikan yang dipelihara dalam akuarium berasal dari daerah dengan kondisi air yang netral, atau sedikit asam, dengan nilai pH antara 6 sampai 7. Untuk jenis ikan Cichlid (daerah asal : Malawi & Tanganyika) lebih menyukai kondisi air yang agak basa dengan nilai pH antara 7.5 sampai 8.5. Nilai pH optimal untuk Akuarium Air Laut antara 8.2 sampai 8.4.
 
           
  Ammonium / Ammonia (NH4 / NH3)      
 

Ammonium / Ammonia ini dapat mengindikasikan banyaknya polutan yang terurai di dalam air pada sebuah akuarium atau kolam. Polutan yang berasal dari kotoran dan pengeluaran ikan, makanan yang tersisa, dan daun / tanaman yang mati. Tingkat Ammonium dalam ukuran tertentu masih dapat ditoleransi oleh Ikan. Sedangkan tingkat ammonium yang tinggi mengindikasikan bahwa bakteri pengurai yang berguna untuk mengurai nitrit menjadi nitrat pada bio-filter tidak berkembang atau habis. Hal ini biasanya terjadi pada saat ikan dalam perawatan atau pada saat adanya penggantian air secara keseluruhan. Bakteri pengurai yang biasanya tinggal dalam suatu bio-filter akan sangat membantu untuk mengurai polutan / ammonia dari nitrit menjadi nitrat dimana nitrat ini akan diserap dan berguna untuk tanaman air, oleh tanaman air akan diproses dan dikeluarkan berupa air yang bebas nitrat (topik terkait: Daur Ulang dan Pembentukan Oksigen oleh Tanaman Air). Bagi akuarium atau kolam yang tidak memiliki tanaman air, nitrat ini tidak akan terurai menjadi partikel bebas-nitrat, dan nitrat yang terkumpul dalam jangka waktu yang cukup lama akan sangat membahayakan ikan. Sebaiknya dilakukan penggantian air secara parsial. Apabila nilai pH diatas 7, ammonium cenderung akan berubah menjadi ammonia yang dapat menjadi racun bagi ikan. Tingkat ammonia lebih dari 0.02 mg/l (ppm) akan menyebabkan kerusakan insang permanen pada ikan. Ammonia lebih dari 0.05 mg/l (ppm) akan menyebabkan kematian pada ikan.

 
           
  Nitrit / Nitrite (NO2)      
 
Nitrit merupakan hasil lebih lanjut dari proses pembusukan polutan yang ada. Dalam jumlah yang cukup tinggi nitrit merupakan racun yang cukup membahayakan bagi darah ikan. Pada tingkat 0.9 mg/l (ppm) cukup mempengaruhi, dan apabila lebih dari 3.3 mg/l (ppm) akan menjadi sangat bahaya bagi ikan di akuarium dan kolam.
 
           
  Nitrat / Nitrate (NO3)      
 
Nitrat merupakan hasil tahapan terakhir dari proses pembusukan polutan. Nitrat terbentuk pada saat penguraian nitrogen atau dapat juga berasal dari air ledeng (PAM) yang mengandung Nitrat. Dengan adanya nitrat ini ikan dan tanaman air tidak akan tumbuh, disamping itu lumut (algae) akan berkembang pesat apabila tingkat nitrat di atas 50 mg/l (ppm). Sebaiknya nitrat tidak lebih dari 20 mg/l (ppm).
 
           
  Besi / Iron (Fe)      
 
Besi merupakan salah satu dari sekian banyak nutrisi yang penting untuk semua tanaman air. Tingkat besi yang rendah akan merugikan tanaman, dimana kebanyakan jumlah unsur besi akan sangat membahayakan ikan dan beberapa jenis tanaman air. Tanaman air tidak selalu dapat berasimilasi dengan beberapa jenis unsur besi, seperti unsur besi yang berasal dari air ledeng (PAM). Daun-daun pada tanaman air akan berubah warna menjadi kuning merupakan gejala dari kekurangan unsur besi . Tingkat besi diatas 1.0 mg/l (ppm) dalam jangka waktu yang lama akan membahayakan bagi beberapa jenis ikan dan tanaman air.
 
           
  Oksigen / Oxygen (O2)      
 
Oksigen sangat penting bagi ikan dan kehidupan lain dalam sebuah akuarium dan kolam. Tanaman air juga membutuhkan sedikit oksigen pada malam hari. Tingkat oksigen dipengaruhi beberapa faktor seperti suhu (temperatur), pergerakan air (agitasi), banyaknya ikan dan tanaman air, dan banyaknya polutan. Kekurangan oksigen akan menyebabkan kesulitan bernafas pada ikan, menjadi lemas, dan akhirnya mati.
 
           
  Karbondioksida / Carbon dioxide (CO2)      
  Karbondioksida merupalan nutrisi yang penting bagi semua tanaman air. Tingkat CO2 antara 10 sampai 40 mg/l (ppm) telah terbukti cocok untuk tanaman air akuarium dan tingkat ini masih dapat ditoleransi oleh ikan.  
           
  Tembaga / Copper (Cu)      
 
Tembaga ini merupakan racun bagi ikan, invertebrata, dan mikro-organisme. Tembaga dapat ditemukan dalam akurium dan kolam dari air ledeng (PAM) atau pada tempat pemeliharaan yang terbuat dari tembaga atau benda-benda yang mengandung / terbuat dari tembaga. Tingkat tembaga diatas 0.3 mg/l (ppm) akan fatal bagi keong dan invertebrata lainnya, diatas 1.0 mg/l (ppm) fatal bagi semua kehidupan akuarium air tawar dan laut. Dan banyak juga invertebrata akuarium air laut tidak dapat bertoleransi pada keadaan yang rendah unsur tembaga, dibawah 0.3 mg/l (ppm)
 
           
  Fosfat / Phosphate (PO4)      
 
Tingginya fosfat dalam sebuah akuarium atau kolam (biasanya diatas 10 mg/l (ppm)) disebabkan banyaknya ikan yang dipelihara (over-population), makanan ikan yang mengandung banyak / lebih fosfat , dan pupuk tanaman air yang mengandung fosfat. Bersama dengan tingkat nitrat yang tinggi, fosfat yang meningkat akan mempercepat pertumbuhan lumut (algae). Tingkat fosfat seharusnya tidak lebih dari 1 mg/L (ppm) dalam akuarium air tawar, 0.5 mg/l (ppm) dalam air kolam, dan 0.1 mg/l (ppm) dalam akuarium air laut.
 
           
  Klorin / Chlorine (Cl)      
 
Klorin biasanya terkandung pada air ledeng (PAM). Klorin ini akan masuk bersama air ledeng (PAM) yang digunakan pada saat penggantian air atau penataan ulang akuarium secara keseluruhan (new setup). Tingkat klorin diatas 0.02 mg/l (ppm) akan menyebabkan membran sisi insang (mucous membranes) ikan merasa terbakar dan berwarna merah. Klorin juga dapat mengganggu kerja bakteri pengurai yang menguntungkan pada saat mengurai polutan pada filter, bahkan dapat mematikan bakteri ini.
 
           
  Kalsium / Calsium (Ca)      
 
Kalsium dalam jumlah yang cukup sangat dibutuhkan bagi algae, koral, dan anthozoa lainnya dalam sebuah akuarium air laut. Dalam air laut alaminya konsentrasi kalsium berada diantara 400-450 mg/l (ppm).
 
           
  Magnesium (Mg)      
 
Selain kalsium, magnesium juga sangat dibutuhkan bagi alga dan invertebrata pada akuarium air laut. Terutama Calcareous Red Algae dan Gorgonians yang membutuhkan banyak mineral ini untuk membentuk struktur tulangnya. Dalam air laut alaminya konsentrasi magnesium berada sekitar 1300 mg/l (ppm).
 
           
 
 
           
 
Topik Terkait :
 
   
           
           
© Jelambar Aquatic Life